Friday, December 14, 2018

Ketua Dewan Ngawi Sebut Fenomena Gantung Diri Berkaitan Dengan Pelayanan Kesehatan

SiagaNews || Kasus dari pelaku gantung diri di Ngawi, Jawa Timur kurang dari dua bulan terakhir angkanya cukup memprihatinkan. Betapa tidak, terhitung mulai November hingga Desember 2018 terhitung ada 9 kasus gantung diri. 


Dari jumlah tersebut hampir sebagian besar dilakukan oleh pelaku berumur lebih dari 55 tahun. Dan motifnya pun hampir sama yakni depresi akibat penyakit tidak kunjung sembuh. Menyikapi aksi yang tidak patut ditiru tersebut membuat Dwi Rianto Jatmiko Ketua DPRD Ngawi angkat bicara. 


Melalui sambungan selular dengan rinci ia menyebutkan perilaku gantung diri apapun alasanya sangat tidak dibenarkan. Baik norma sosial masyarakat lebih-lebih dari sisi ajaran agama apapun sangat bertentangan. 


Antok demikian sapaan akrabnya membenarkan faktor depresi karena penyakit berujung gantung diri memang membuka kran untuk mengevaluasi sisi pelayanan kesehatan didaerahnya. Politisi gaek dari PDIP itu menyebut ada beberapa hal yang patut dikaji untuk meminimalisir aksi nekat gantung diri.


"Mungkin ada sisi-sisi yang perlu di evaluasi terutama sosialisasi pelayanan kesehatan yang buntu. Belajar dari hal itu Puskesmas harus lebih intens lagi melakukan sosialisasi tentang kesehatan ke masyarakat termasuk bagaimana cara pencegahanya," terang Antok, Kamis, (13/12/2018). 


Ulasnya, frekuensi sosialisasi kesehatan ke masyarakat harus dimaksimalkan lagi oleh Puskesmas. Secara manajemen pengelolaan Puskesmas diwilayah Ngawi semuanya sudah BLUD sehingga ada keleluasaan menerapkan kebijakan terkait sosialisasi.


"Dalam konteknya Puskesmas harus peka terhadap situasi diwilayah kerjanya. Kalau sudah demikian ini harus melakukan pemetaan terhadap suatu penyakit yang diderita warga masyarakat. Maka Puskesmas melakukan penyuluhan dan pendampingan kepada pasien yang mungkin mengalami depresi," bebernya.


Namun Antok dalam penjelasanya, semua elemen masyarakat harus ada kepedulian antara satu sama lain. Tentunya melibatkan tokoh masyarakat maupun tokoh agama. Besar harapan, apabila menemukan warga yang mengalami atau menderita suatu penyakit tidak kunjung sembuh harus diberikan motivasi untuk memperkuat moralnya. 


Sehingga aksi nekat gantung diri bisa dicegah sejak dini dengan memberikan satu pendampingan. Antok berjanji fenomena gantung diri akan dijadikan pembahasan serius di meja kerjanya dengan melakukan komunikasi bersama eksekutif dan tokoh masyarakat demikian juga tokoh agama. (pr)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: