Thursday, October 25, 2018

Perspektif MUI Ngawi Antisipasi Bahaya LGBT

SiagaNews || Entah benar atau tidak, akhir-akhir ini beredar kabar di media sosial akan hadirnya sebuah komunitas lesbian, gay, bisexual dan transgender (LGBT) di wilayah Ngawi tentu membuat resah masyarakat. Dalam grup tersebut tertera tulisan tentang komunitas gay dan jika diintip tercatat ada 112 anggota.

Atas kabar tersebut membuat keprihatinan tersendiri bagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ngawi. Dr Halil Thahir Ketua MUI Ngawi menyebut, apapun alasanya keberadaan LGBT dalam agama apapun termasuk Islam tidak dibenarkan. Dimana, perilaku yang dilakukan para kaum LGBT tidak manusiawi sangat menyalahi dari kefitrahan manusia yang hakikatnya telah diberikan pasangannya masing-masing.

“Dalam ajaran Islam itu sejalan dengan fitrah. Salah satunya adalah manusia dalam melakukan hubungan sex pasti dengan lawan jenis melalui prosesnya. Dan LGBT dalam pengertian universal siapa yang punya nalar sehat baik mereka yang beragama maupun tidak tentu akan menolak atas perilaku menyimpang ini,” terang Dr Halil Thahir, Rabu, (24/10).

Berkaitan dengan orang-orang yang diduga melakukan penyimpangan sex dalam LGBT sebenarnya dan pasti memahami perilaku itu adalah bentuk penyimpangan bertentangan dengan norma dan agama. Dilihat dari perspektifnya, para pelaku LGBT berangkat dari berbagai masalah dan justru mereka jadi korban akan perilaku negative tersebut.

Maka, tindakan dan perilaku maupun kekerasan sex terhadap anak dibawah umur sangat ditentang dari sisi hukum positif maupun agama. Karena nantinya akan membentuk memori si anak jadi rasa traumatis demikian juga bisa jadi meniru. Dan dua-duanya sangat negative dan merugikan terhadap perkembangan si anak itu sendiri.

Dalam pemberantasan dan mengantisipasi menularnya perilaku LGBT tidak cukup dengan mengeluarkan fatwa maupun menggelorakan gerakan anti perilaku sex menyimpang. Tetapi pencegahanya butuh waktu yang panjang dengan rasa arif dan bijak dalam memberikan pengertian tentang LGBT kepada generasi penerus. Tentu, tindakan preventif lebih penting daripada tindakan kuratif.

Beber Dr Halil Thahir, ada dua peran penting pendidikan saat ini yang dapat mencegah terjadinya perluasan dan penularan LGBT pada anak. Pertama, adalah pendidikan agama Islam. Agama merupakan pedoman hidup manusia untuk menjalani kehidupannya dalam koridor yang benar. Pendidikan agama menjadi benteng utama dan terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Penanaman nilai aqidah dan ketakwaan kepada Allah SWT. (pr)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: